Menu Tutup

Review Film Raya and The Last Dragon

Setelah Moana dan Mulan, Disney kini perkenalkan satu pejuang wanita baru yang tak kalah tangguh, yaitu Raya. Dalam film yang baru saja dirilis, Raya diperkenalkan dalam film Raya and the Last Dragon yang tayang sejak 3 Maret di bioskop.

Dalam cerita berdurasi 107 menit ini, Raya harus menemukan sosok naga legendaris untuk menyelamatkan dunia. Dalam film ini, Disney kembali mempertontonkan film animasi petualangan yang seru dengan grafis yang memukau. Simak dulu review raya and the last dragon di bawah ini.

Film Raya and the Last Dragon bercerita tentang sebuah negeri bernama Kumandra yang tercerai berai. Mereka saling berselisih satu sama lain karena sama-sama menginginkan roh naga yang kebetulan dijaga ketat oleh orang-orang dari klan Hati.

Sampai satu ketika Benja, kepala dari klan Hati mengundang semua petinggi klan dari negeri Kumandra dan mengusulkan perdamaian.

Namun, terjadilah pengkhianatan. Roh naga yang dijaga ketat selama 500 tahun jatuh dan pecah menjadi 5 bagian.

Masing-masing klan membawa satu pecahan roh naga. Ketika roh naga pecah, makhluk bernama Druun muncul kembali dan mengubah orang menjadi batu. Druun hanya takut dengan air dan kepingan roh naga.

Satu-satunya yang bisa menyelamatkan negeri dari kehancuran Druun adalah bangkitnya naga terakhir yang 500 tahun lalu berhasil memusnahkan Druun dari negeri Kumandra. Raya, sebagai keturunan penjaga roh naga bertanggung jawab untuk membuat kondisi ini menjadi normal kembali.

Dia harus membangkitkan naga terakhir dan mengumpulkan semua kepingan roh naga untuk mengalahkan Druun.

Namun, kebencian antar klan menjadi tantangan bagi Raya. Jadi, sanggupkah Raya menemukan naga legendaris dan mengumpulkan tiap kepingan roh untuk mengembalikan kondisi negeri seperti semula? Saksikan langsung film ini di bioskop.

Ketika nonton film Raya and the Last Dragon, ada banyak elemen yang dirasa cukup dekat dengan Indonesia. Mulai dari senjata andalan Raya yang berupa pedang yang menyerupai keris. Lalu, warna kulit Raya yang sawo matang khas orang Indonesia.

Kemudian, lanskap pemandangan sawah-sawah yang mirip dengan Indonesia, juga kostum para prajurit yang sekilas identik dengan kostum prajurit kerajaan Indonesia di masa kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.

Tak sampai di situ, ada adegan ketika Virana, kepala klan Taring, mendongeng kepada anak-anak menggunakan boneka seperti wayang, dan ada adegan seorang wanita tengah membatik.

Semua elemen itu akhirnya bisa dimaklumi ketika Disney menyebut inspirasi dari film ini memang terinspirasi dari daratan Asia Tenggara. Jadi terjawab sudah kenapa Raya berkulit sawo matang dan menggunakan senjata layaknya keris.

Teringat ketika Disney membuat Moana (2016), kala itu animasi tersebut terinspirasi dari orang-orang di dataran Oceania yang menggantungkan hidupnya dari laut.

Raya bisa dibilang adalah putri mahkota. Namun, dia tak seperti Elsa atau Rapunzel yang kehidupannya ada di sekitar istana dan pangeran. Sebab itu, tujuan dari film ini bukan seorang putri yang hidup bahagia selamanya.

Film Raya and the Last Dragon punya pesan tentang persatuan dalam perbedaan. Hal itu sudah digaungkan sejak awal film ketika Benja, kepala Klan Hati, menyebut bahwa persatuan akan menghasilkan perdamaian. Semangat itu yang kemudian dibawa terus oleh film ini sampai akhir.

Bahkan di akhir film, bukan sekadar pesan persatuan yang ditonjolkan. Melainkan juga soal kepercayaan dan meyakini satu sama lain meski masing-masing berasal dari kelompok yang berbeda.

Pesan keberagaman dalam persatuan dan kepercayaan yang muncul antargolongan ini sangat terbuka dan benar-benar dapat dirasakan oleh penonton. Mungkin, baru kali ini ada film Disney yang mengusung tema Bhineka Tunggal Ika, bukan?

Film ini punya tensi yang cukup tinggi sejak awal film. Penonton sudah diajak deg-degan dari pertama kali filmnya dimulai.

Sayangnya, jalan ceritanya masih cukup klise. Masih seputar seorang putri berjiwa ksatria yang ingin mengubah keadaan dengan mengembara untuk menemukan sesuatu yang bisa mengubah kesulitan.

Setidaknya, premis seperti itu bisa kita jumpai di banyak film seperti Moana atau bahkan anime Dragon Ball.

Untungnya, ada dialog-dialog lucu dan adegan seru yang mengaburkan premis klise tersebut. Akhirnya, tiap-tiap adegan berhasil mengikat penonton untuk terus menyaksikannya sampai selesai.